Cerita temuan dua jasad bayi di rumah seorang expat asal Prancis di Korea Selatan, siapa pelakunya?

cerita penemuan jasad bayi dalam kulkas (twitter.com/apriseuldiyana)

delta3.co.id – Jean, seorang warga Prancis ditelepon oleh penjaga perumahan perihal paket berisi daging ikan beku yang ditujukan kepadanya.

Jean lalu kembali ke Korea untuk mengambil paket tersebut dan membereskan kulkas agar dapat menyimpan daging ikan kirimannya tersebut.

Tak disangka, setelah membuang beberapa makan yang sudah tidak layak konsumsi, ia menemukan bongkahan plastik berukuran sedang di rak ke 4 dan 5 kulkasnya.

Terkejut dengan bongkahan plastik itu, di dalamnya merupakan dua jasad bayi yang telah membeku, salah satunya dibalut dengan handuk sebelum dimasukan ke dalam plastik.

Kisah penemuan jasad bayi dalam kulkas yang terjadi pada tahun 2006 diceritakan kembali oleh akun twitter @apriseuldiyana yang mendapat respons aktif dari warganet.

Berawal dari kepindahan Jean Louis Courjult (40) pada tahun 2002 ke Korea Selatan yang telah menikah dengan Veronique Fievre Courjult pada tahun 1994 dan memiliki dua orang putra yang lahir pada tahun 1994 dan 1997.

Kepindahan pekerjaannya itu ke Korea Selatan Jean disediakan rumah di daerah yang cukup elit. Sebuah rumah kalangan menengah atas dengan tiga lantai dan halaman belakang.

Tampilan rumah kediaman Jean dan keluarga saat di Korea (Grazy TV)

Setelah 4 tahun bekerja di perusahaan, pada awal Juli 2006, Jean dan keluarga memutuskan untuk kembali ke Prancis, tak lama Jean kembali ke Korea Selatan karena ada panggilan pertemuan dari perusahaannya, sementara istri dan anak-anaknya masih tinggal di Prancis.

Pada tanggal 23 Juli 2006, Jean ditelepon oleh seorang penjaga di perumahannya terkait paket berisikan daging ikan beku yang ditujukan kepadanya.

Jean segera pulang mengambil paket tersebut dan membereskan kulkas untuk memberi ruang bagi paket daging ikannya.

Saat sedang membuang beberapa makanan tak layak konsumsi, ia menemukan bongkahan plastik berukuran sedang pada rak ke 4 dan ke 5 kulkasnya.

Dikira makanan, Jean kaget saat membuka dan mengetahui isi plastik tersebut. Dua jasad bayi beku.

Karena tidak fasih bahasa Korea, Jean menghubungi temannya agar segera melaporkan temuannya tersebut ke polisi, untuk segera dilakukan investigasi.

Hasil investigasi tersebut tidak menemukan keaneh di rumah yang ditempati Jean tersebut. Tidak ada tanda-tanda perampokan, senjata maupun bercak darah.

Jean sendiri meyakini, mungkin saja ada orang lain yang dengan sengaja masuk untuk menjebakknya dengan meletakan kedua jasad bayi tersebut ke dalam kulkas rumahnya. Namun Polisi tak langsung memercayai pernyataan Jean itu.

Pemerikasaan pertama temuan tersebut, polisi ingin mengetahui berapa lama kedua jasad bayi tersebut disimpan berikut penyebab kematiannya.

Tim otopsi menyatakan, kedua jasad bayi meninggal sesaat setelah dilahirkan, tanpa adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh mereka. Sayangnya, tim otopsi tidak dapat mengetahui kapan tepatnya kedua bayi wafat karena jasad dalam keadaan beku.

Namun, kedua jasad bayi tersebut diyakini tidak dilahirkan di rumah sakit sebab tali pusar masih menempel dan terdapat upaya pemutusan tali pusar dengan benda tumpul.

Baca Juga:  Ayu Ting Ting tak tutup kemungkinan berjodoh dengan orang Korea, Bilqis: pacarnya harus mirip Suga

Polisi sempat mencurigai Jean dan Veronique. Namun Jean tegas menyangkal tuduhan. Jean menyatakan bahwa istrinya telah melakukan operasi terhadap sistem reproduksinya pada tahun 2003 yang hal itu membuat Veronique tidak mungkin mengalami kehamilan.

Tiga hari setelahnya, Jean kembali ke Prancis setelah menyerahkan DNA miliknya kepada polisi.

Dari temuan CCTV yang terpasang, mengingat kawasan perumahan tersebut terbilang elit, ditemukan bahwa sebelum kembali ke Prancis bersama keluarganya, Jean meninggalkan kunci rumanya kepada Martin untuk sesekali dikunjungi.

Dari beberapa rekaman tersebut, selama sekitar 7 menit di dalam rumah Martin terlihat 4 kali masuk ke rumah Jean selama 3 minggu.

Sempat dicurigai, Martin memiliki alibi cukup kuat karena dititipkan untuk mengecek keadaan rumah, terlebih Martin hanya menghabiskan waktu sekitar 7 menit, sehingga ia tak memiliki alasan kuat untuk melakukan pembunuhan.

Usut punya usut salah satu jasad bayi dengan balutan handuk, bermerek sama seperti merek handuk yang ada di dalam rumah Jean.

Dan setelah diperika DNA kedua jasad bayi tersebut, hasil test menunjukan bahwa Jean merupakan ayah kandung dari kedua bayi tersebut.

Sementara sang ibu, Veroiqua tidak memiliki sample DNA nya kerena ia tidak sedang berada di Korea saat itu.

Polisi Korea pun mengumpulkan beberapa barang-barang di rumah Jean untuk menemukan DNA milik Veroniqua. Ada tiga buah sikat gigi dan tiga sisir yang kemudian dibawa untuk diteliti.

Hasil teliti barang-barang tadi terdapat tigabuah DNA pria yang diuga milik Jean dan kedua putranya dan tiga buah DNA perempuan dari satu orang yang sama.

Keluarga Jean, sempat memperkerjakan seorang pekerja rumah tangga perempuan berkewarganegaraan Filipina yang juga dicurigai sebagai selingkuhan Jean.

Namun, tidak ditemukan kesamaan DNA dari perempuan mantan pekerja rumah tangga dengan DNA perempuan yang ditemukan di barang-barang rumah Jean.

Meskipun polisi Korena sempat mengundang kembali keluarga Jean untuk diinvestigasi lebih lanjut, pengacara Jean menolak karena tidak cukup bukti untuk menaruh kecurigaan terhadap Veronique.

Salah satu detektif yang menangani kasus ini, Deketif Cheon Hyungil meyakini bahwa tersangka kasus ini adalah Veronique.

Kecurigaan ini bermula dari percakapan Detektif Cheon dengan sang Istri. Dalam percakapan itu, detektif dan si istri menduga-duga pelaku pembunuhan kedua bayi tersebut.

Detektif Cheon mencurigai Veronique sebagai pelaku dalam kasus tersebut. (twitter.com/apriseuldiyana)

“Mungkin nggak sih, pelakunya tuh istrinya?” sahut istri Cheon asal.

“Nggak mungkin, kan istrinya sudah melakukan operasi dan tidak mungkin hamil lagi,” jawab Cheon.

“Bentar, jangan2 istrinya operasi karena melahirkan di rumah secara asal dan akhirnya ada yang salah dengan sistem reproduksinya,” istri Cheon masih bersikeras dengan analisanya.

“Kamu nih nulis novel, ya? Istrinya tuh kan udah operasi 3 tahun yang lalu!”

“Lah, kan kata kamu tim otopsi nggak tahu kapan bayinya meninggal?”

Seketika itu Detektif Cheon langsung yakin bahwa Veronique harus dibawa ke Korea untuk diinvestigasi.

Baca Juga:  Ayu Ting Ting ngaku beruntung ada Ivan Gunawan tapi Bilqis pingin papa orang Korea: Berat banget ujian emak lu

Namun pihak otoritas Prancis lagi lagi tidak percaya denganhasil penyelidikan kepolisian Korea, khususnya teknologi tes DNA yang bisa saja keliru. Hal itu membuat otoritas Korea sulit melakukan tindakan, mengingat Veronique berkewarganegaraan Prancis.

Entah bagaimana caranya, seorang investigator mendapatkan sample tissue milik Veronique saat dirinya melakukan operasi di rumah sakit Korea 3 tahun lalu.

Berdasarkan hasil test DNA dari sample tissue tersebut, menunjukan bahwa, ibu dari kedua jasad bayi tersebut adalah Veronique.

Menanggapi berita yang simpang siur terkait dirinya, pada tanggal 22 Agustus 2006, Jean bersama Veronique serta pengacara mengadakan press conference dan membantah semua tuduhan yang dijatuhkan pada Veronique.

Jean masih meyakini bahwa kejadian tersebut mungkin dilakukan musuhnya atau kompetitor perusahaan untuk menjatuhkan nama baiknya dan keluarga.

Dapati jalan buntu, pemerintah Korea mengirimkan kasus tersebut ke pemerintahan Prancis untuk diinvestigasi lebih lanjut.

Melalui test DNA yang kembali dilakukan, hasil test tidak berubah. orang tua biologis kedua jasad bayi tersebut adalah Veronique dan Jean.

Hampir makan waktu setahun, akhirnya pada 12 Oktober 2007 Veronique mengakui perbuatannya kepada pihak kepolisian.

Veronique melahirkan kedua bayinya itu pada tahun 2002 dan 2003 di rumahnya di Korea. Selain itu Veronique juga mengaku, pernah melakukan hal serupa pada tahun 1999 di Prancis.

Ia mengaku bahwa, ia telah membuang bayinya di perapian dan membakarnya. Dalam persidangan, Veronique menyatakan, “Mereka bukanlah anak, melainkan bagian dari diri saya yang telah saya bunuh.”

Veronique merasa, kalau ketiga bayinya tersebut hanya bagian dari tubuhnya yang hilang. Sebagaimana tangan atau kaki, yang bisa hilang karena sebab.

Setelah 6 bulan pemeriksaan, tim profesional menyebutkan Veronique memiliki kondisi ‘Denial of pregnancy’ atau penolakan diri terhadap kehamilan.

Ketika ia tahu kondisi kehamilannya, maka dirinya akan melupakan hal tersebut dan hidup seperti biasanya, dan saat memasuki masa kelahiran, ia akan berusaha meniadaan buah dari kehamilannya itu.

Seorang invertigator Korea sempat menemukan 10 ribu file foto keluarga Jean selama di Korea. Namun tak satupun foto yang menunjukan tanda-tanda kehamilan pada Veronique.

Bahkan tetangga dari keluarga dekat Jean, mengatakan Veronique mengenakan bikini saat umur kemahilan 7 bulan.

Veronique bebas lebih cepat kerena kesehatan mental yang dialaminya, sementara Jean tidak dijerat karena ketidaktahuannya terhadap kehamilan yang dialami istrinya (twitter.com/apriseuldiyana)

Seorang ibu yang mengalami denial of pregnancy cenderung memiliki perut yang tidak terlalu besar. Hal itu karena pikiran sang ibu yang menolak kehadiran janin mempengaruhi posisi janin sehingga berpengaruh juga pada bentuk tubuh si ibu.

Janin dalama perut di Ibu yang mengalami denial ofpregnancy seperti berusaha untuk bersembunyi agar dirinya tidakterlihat, bahkan engga untuk bergerak.

Veronique akhirnya dijatuhi hukuman 8 tahun penjara karena kondisi mentalnya dan setelah beberapa kali menerima remisi dan keringanan hukuman, Veronique pun dinyatakan bebas lebih cepat pada tahun 2010.

Sementara itu, Jean dinyatakan tidak bersalah karena tidak mengetahui kehamilan Veronique.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.