5 Kota yang membara demi mahalnya harga sebuah kemerdekaan, selain harta benda, jiwa dan raga jadi taruhan

Palagan Ambarawa. Foto: Wikipedia

delta3.co.id – Kata kemerdekaan buat bangsa ini jelas bukan lagi sekadar memori, tapi lebih dari itu punya makna yang begitu dalam dan mulia.

Tak terhitung banyaknya cerita yang mengisi di setiap ruang-ruang dalam perjalanan merengkuh kemerdekaan.

Bukan cuma tetesan air mata saja, tapi harta benda, jiwa dan raga yang tak terhitung jumlah menjadi taruhannya.

Memang selintas kemerdekaan itu tak lebih dari sebuah kata sederhana yang bahkan terlalu mudah dilontarkan.

Bukan cuma oleh orang-orang dewasa, anak kemarin sore pun mampu dengan lantang melontarkannya.

Tapi, sekali lagi kemerdekaan bukanlah “barang” murah dan sederhana yang siapa saja bisa meraihnya, terlebih dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tengok saja catatan sejarah negara tercinta ini, ada pilu, ada pahit dan getir seolah menjadi satu, serta banyak lagi rasa membelenggu.

Karena dijajah itu pedih, lumrah kalau hasrat untuk membebaskan diri makin membuncah dari hari ke hari.

Cuma satu kata yang tak henti menjadi bayang-bayang, merebut kemerdekaan itu untuk negeri menjadi harga mati.

Dan, angkat senjata bisa jadi satu-satunya langkah yang paling bisa diterima logika.

Langkah itu yang kemudian menjadi bukti kesungguhan para pejuang demi sebuah mimpi.

Ingat saja, berapa banyak pertempuran membara yang mengemuka di banyak kota.

Kota-kota yang membara

Demi satu kata “merdeka”, jiwa para pejuang seolah meronta. Mereka pun mengobarkan semangat dan angkat senjata, bertempur melawan kebiadaban penjajah di banyak kota.

Baca Juga:  Selain Indonesia 4 negara ini juga punya cara yang unik untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, ada Korea Selatan

Palagan Ambarawa

Perang “Palagan Ambarawa” contohnya. Perang ini diawali dengan kehadiran tentara Sekutu di Semarang pada 20 Oktober 1945 dipimpin Brigjen Bethel.

Saat menuju Magelang, mereka membuat kerusuhan, dan meneror rakyat, tak pelak membuat rakyat marah. Mereka pun diboikot dan diserang.

Lalu, mereka pun mundur ke Magelang. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pun tak tinggal diam, langsung mengejar dan mengepung, dipimpin langsung Kolonel Sudirman.

Pertempuran sengit tak terhindarkan. Berkobar selama empat hari, 12-15 Desember 1945 yang berakhir dengan kemenangan TKR pada 15 Desember 1945. Dan, tanggal ini pula yang diabadikan sebagai Hari Juang Kartika TNI AD.

Pertempuran 10 November

Tak beda jauh waktunya, pertempuran juga terjadi di kota Surabaya. Diawali dengan kedatangan tentara Sekutu pada 25 Oktober 1945 dipimpin Brigjen A.W.S. Mallaby.

Pertempuran sengit ini berujung tewasnya Brigjen Mallaby. Ini membuat sekutu marah dan mengultimatum rakyat untuk menyerah pada 9 November 1945.

Rakyat Surabaya tidak menggubris. Terjadilah serangan hebat tentara Sekutu. Tapi, rakyat Surabaya pantang menyerah dan melawan, ketika itu Bung Tomo adalah tokoh pemuda yang terus membakar semangat mereka.

Peristiwa perlawanan rakyat Surabaya terhadap Sekutu pada 10 November 1945 kemudian dikenal sebagai hari “Pahlawan”.

Baca Juga:  5 Keterampilan yang harus diajarkan kepada anak untuk menjalani kehidupan

Bandung Lautan Api

Pertempuran juga terjadi di kota Bandung yang kemudian dikenal sebagai “Bandung Lautan Api”.

Awalnya, Sekutu yang membonceng NICA tiba di kota Bandung pada 13 Oktober 1945. Alasannya, ingin melucuti tentara Jepang.

Pada 27 November 1945, mereka mengultimatum para pejuang untuk keluar dari kota Bandung Utara, tapi para pejuang menolak.

Mereka baru mau keluar setelah pemerintah pusat Jakarta turun tangan. Tapi, sebelumnya Bandung sudah dibumihanguskan pada 23 – 24 Maret 1946.

Medan Area

Sekutu yang membonceng NICA masuk ke kota Medan dipimpin oleh T.E.D. Kelly. Sebelum mereka tiba para pemuda Medan sudah membentuk TKR.

Lalu, mereka pun bertempur melawan Sekutu dan NICA pada 13 Oktober 1945 yang kemudian dikenal perang Medan Area.

Puputan Margarana

Di Bali pertempuran juga terjadi antara pasukan TKR divisi Sunda Kecil dipimpin Kolonel I Gusti Ngurah Rai dengan Belanda yang mau menguasai pulau tersebut.

Peperangan yang terjadi pada 20 November 1946 berlangsung dini hari sampai siang hari.

Awalnya pasukan I Gusti Ngurah Rai berhasil mendesak pasukan Belanda, tapi mereka mendapat bala bantuan.

Meski begitu I Gusti Ngurah Rai beserta pasukan tetap bertahan dan bertempur habis-habisan. Akhirnya, mereka pun gugur dalam pertempuran yang diberi nama “Puputan Margarana”. ***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.