Mengenal regulasi financial Fair Play milik UEFA

FFP adalah seperangkat aturan untuk cegah klub sepak bola membelanjakan lebih dari yang mereka peroleh. (Twitter @UEFA)

 

delta3.co.id – Topik Regulasi Financial Fair Play (FFP) seringkali dibicarakan ketika musim transfer sepak bola berlangsung.

Seperti namanya, FFP hanya berlaku bagi setiap klub yang tergabung dalam Asosiasi Sepak Bola Eropa, atau yang biasa disebut UEFA.

FFP adalah seperangkat peraturan yang dibuat untuk mencegah klub sepak bola membelanjakan lebih dari yang mereka peroleh untuk mengejar kesuksesan.

Yang tujuannya agar klub-klub tersebut terhindar dari masalah keuangan yang dapat mengancam kelangsungan hidup jangka panjang mereka.

Beberapa berpendapat bahwa mereka dilembagakan untuk mencegah “doping” keuangan dari sumber di luar pasokan pemilik untuk menyuntikkan uang ke klub yang lebih kecil.

Regulasi ini disetujui oleh UEFA dan mulai berlaku per September 2009.

Dalam pengumumannya, Presiden UEFA saat itu, Michel Platini mengatakan, “Lima puluh persen klub kehilangan uang dan ini adalah kejadian yang terus meningkat. Kita harus menghentikan tren ini.”

“Mereka telah menghabiskan lebih dari yang mereka peroleh di masa lalu dan belum membayar hutang mereka. Kami tidak ingin membunuh atau melukai klub; sebaliknya, kami ingin membantu mereka (agar mampu bertahan) di pasar,” lanjut Presiden UEFA.

Baca Juga:  BRI Liga 1: Pemain Persija Cuma Kuat Main Gegenpressing Sebabak, Thomas Doll Yakin Mau Terus Idealis?

Ada betulnya yang dikatakan oleh Platini, sebuah klub bisa cepat bangkrut jika mereka tidak bisa mempertahankan keberlangsungan mereka dengan membuat lebih besar pengeluaran daripada pemasukan.

Pembuatan sebuah peraturan pastinya memiliki sebuah sebab, dan hal itu juga berlaku untuk FFP.

Dalam sebuah tinjauan UEFA 2009 menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari 655 klub Eropa mengalami kerugian dari tahun sebelumnya.

Meskipun sebagian kecil mampu mempertahankan kerugian besar tahun-ke-tahun sebagai akibat dari kekayaan pemiliknya, setidaknya 20 % klub yang disurvei diyakini berada dalam bahaya finansial yang sebenarnya.

Sebagian besar utang Sepak Bola Eropa secara keseluruhan hanya dimiliki oleh tiga liga terbesar, Liga Utama Inggris, Serie A Italia, dan Divisi Primera Spanyol, atau dikenal sebagai La Liga.

Sebut saja klub legendaris asal Inggris, Portsmouth yang mengalami kerugian sebesar 59 juta Poundsterling (Rp723 M, kurs 2010) pada tahun 2010, yang menyebabkan mereka kehilangan posisi di Liga Premier.

Baca Juga:  Jadwal siaran langsung semifinal Piala AFF U 16 2022 Indonesia vs Myanmar, Garuda Asia siap terbang tinggi

Di italia, ada dua raksasa Serie A yang mengalami kerugian besar, dan kedua klub tersebut adalah Inter Milan dan Lazio.

Inter sendiri mengalami kerugian sebesar 1,3 miliar Euro (Rp13 T, kurs 2010) dalam kurun waktu 16 tahun lamanya.

Dan untuk Lazio, mereka setuju untuk melunasi utang selama 23 tahun pada Mei 2005 dengan biaya sebesar 140 juta Euro (Rp 1,6 T, kurs 2005).

Bayangkan saja jika FFP tidak tercipta, pastinya banyak klub akan mengalami kerugian atau bahkan tidak bisa kembali divisi utama masing-masing negara akibat tidak mengalami likuidasi berkelanjutan.

Namun seiring berjalannya waktu mulai banyak klub yang protes dengan kebijakan ini.

Salah satu kritik utama FFP adalah kemungkinan memperkuat klub klub besar yang menghasilkan pendapatan dan keuntungan terbesar, dan karenanya, mereka dapat menghabiskan lebih banyak uang untuk transfer. ***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.