Putin tawarkan Rp251 juta ke ibu yang punya 10 anak, Kiky Saputri: Gak sebanding biasa ngurusin sampai dewasa

Selebriti Indonesia, Kiky Saputri komentari kebijakan Presiden Rusia, Vladimir Putin (Instagram @kikysaputrii)

 

delta3.co.id – Presiden Rusia, Vladimir Putin menawarkan 1 juta rubel atau sekitar Rp251 juta kepada ibu yang melahirkan dan membesarkan 10 anak.

Kebijakan Putin ini pun menarik komentar dari berbagai pihak, bahkan termasuk selebriti di Indonesia, Kiky Saputri.

Kiky Saputrii menilai, uang yang ditawarkan Putin ini tidak sebanding dengan biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak hingga dewasa.

“Hadiahnya ga sebanding sama biaya ngurusin mereka sampai dewasa,” kata Kiky Saputri, sebagaimana dikutip delta3.co.id dari akun Twitter @kikysaputrii pada Senin, 22 Agustus 2022.

Dilansir dari news.com.au, Vladimir Putin menawarkan uang tunai kepada ibu-ibu di Rusia yang memiliki 10 atau lebih anak.

Kebijakan Putin ini membangkitkan kembali insentif yang dulunya memang pernah ditawarkan di era Uni Soviet.

Baca Juga:  Profil Briptu Nurmala Hilda, Polwan Cantik Presenter NTMC Polri yang Hobi Fotografi dan Musik

Untuk diketahui, penghargaan “Ibu Pahlawan” atau Mother Heroine pertama kali diberikan oleh diktator komunis, Joseph Stalin di era Uni Soviet.

Penghargaan ini dibarengi dengan manfaat sosial. Pada awalnya, penghargaan ini diberikan kepada 400.000 warga. Adapun di masa kini, Putin kembali memberikan penghargaan ini beserta uang sebesar 1 juta rubel atau sekitar Rp251 juta.

Hadiah ini akan diberikan Pemerintahan Rusia kepada para ibu setelah ulang tahun pertama anak mereka yang ke-10.

Bonus Rp251 juta ini lebih dari gaji rata-rata tahun Rusia yang sekitar 750 ribu rubel atau sekitar Rp188 juta. Sebagai catatan, para ibu hanya akan memenuhi syarat untuk bonus ini jika sembilan anak lainnya selamat. Jadi, jika salah satu anak meninggal, ibu tidak memenuhi syarat.

Baca Juga:  Brigadir J Diancam Dibunuh Squad Lama, Pengacara Irjen Sambo: Ya Itu Siapa?

Seorang ahli Slavonic dan Studi Eropa Timur, Kristin Roth-Ey menilai kebijakan Putin ini adalah upaya untuk meningkatkan populasi dan nasionalisme. Pasalnya, Rusia telah berbulan-bulan mengalami dampak ekonomi dari perang dengan Ukraina.

“Ini adalah tentang pengabdian kepada Ibu Pertiwi. Ini jelas gema sadar dari masa lalu Stalinis,” kata Kristin Roth-Ey kepada Washington Post.

Kristin Roth-Ey membandingkan bahwa Stalin dulunya memberi penghargaan serupa ketika Uni Soviet berusaha untuk “merencanakan rekonstruksi pascaperang” dan mendukung keluarga sebagai “lembaga inti masyarakat Soviet” usai gugurnya jutaan laki-laki usia kerja dalam Perang Dunia II.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.