Komnas HAM minta Putri Candrawathi jujur soal kasus Brigadir J, apa yang dilakukan sebelum eksekusi?

Putri Candrawathi dan Brigadir Joshua, foto: Tangkapan layar youtube

delta3.co.id – Peluang Putri Candrawathi, istri eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo menjadi penguak fakta kasus pembunuhan Brigadir J, dinilai Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sangat kecil.

Ketua LPSK Hasto Atmojo mengatakan status Putri Candrawathi sangat berbeda dengan Bharada E. LPSK  juga menyebut jika Putri menjadi penguak fakta akan menimbukan konflik kepentingan.

“Ini agak berbeda posisi ibu Putri ini karena walaupun yang bersangkutan nanti ternyata bukan pelaku utama dan dalam tindak pidana tersebut tetapi kalau kemudian terbukti bahwa pelaku utamanya adalah pak Ferdy Sambo itu ada conflict of interest yang bersangkutan untuk menjadi justice collaborator karena posisnya sebagai istri dari Ferdy Sambo,” kata Hasto sebagaimana dikutip delta3.co.id dari kanal YouTube KompasTV pada Minggu, 21 Agustus 2022.

Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak Putri Candrawathi untuk bicara jujur terkait keterlibatnnya dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir J.

Baca Juga:  Deolipa Yumara berani speak up sebagai musisi dan pengacara, siap tagih fee Rp 15 triliun atau...

Komisioner Komnas HAM Sandrayati Moniaga menilai hal ini penting agar proses hukum ini tidak berlarut-larut.

“Kami sangat menghormati proses hukum yang sedang berjalan, kami juga mengingatkan tentang hak-hak dari ibu PC dan kami juga ingin mengingatkan kepada semua pihak untuk tetap terbuka, jujur dalam proses ini agar proses hukum ini tidak berkepanjangan,” katanya.

Soal keterlibatan istri Ferdy Sambo dalam pembunuhan Brigadir J, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendukung upaya audit laporan dugaan pecelhan Putri Candrawati yang masuk ke Polres Jakarta Selatan.

Laporan tersebut awalnya bagian dari rekayasa yang dibuat namun seltelah melakukan penelusuran faktual, Polisi memutuskan tidak melanjuti laporan tersebut karena tidak ditemukan peristiwa pidana.

“Ada orkestrasi rekayasa ini menjadi sesuatu yang faktual tapi dengan berjalannya kan ternyata tidak terbukti. Siap yang memerintakan mengapa mau diperintah lalu bagaimana prosesnya ketika menjalankan untuk membenarkan kebohongan itu. Itu yang diaudit sebenarnya,” kata Alebertus Wahyurudhanto. Komisioner Kompolnas.

Baca Juga:  Hotman Paris unggah pernyataan Mahfud MD soal motif pembunuhan Brigadir J, netizen: Kami sudah dewasa

Kuasa Hukum Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mengatakan tersangka bisa lebih dari lima orang karena ada ajudan yang sering kali menghasut Ferdy Sambo hingga akhirnya Brigadir J dibunuh.

Kamaruddin juga mengungkapkan telah memiliki bukti soal ini. Selain ajudan, menurut dia, ada juga perwira di Propam Polri turut serta menghalangi proses penyidikan tersebut.

“Dari antara sembilan yang saya ucapkan pertama itu masih ada kekurangan empat lagi yaitu di antara para ajudan yang berinisial D yang sering menghasut bapak Ferdy Sambo sehingga emosinya tersulut,” katanya.

“Demikian juga dia yang pertama kali memberi tahu Karo Provost tentang dugaan pembunuhan terencana ini. Propam ada juga yang terang-terangan menghalangi penyidikan, merusak barang bukti, menyembunyikan barang bukti, dan atau sengaja merintangi penyidikan, itu juga harus dijadikan tersangka,” katanya.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.