Kekeringan melanda Eropa, ilmuwan sebut ini adalah yang terparah dalam sejarah

Ilustrasi demo tentang kekeringan yang melanda Eropa. (Markus Spiske/Unsplash)

delta3.co.id – Kekeringan melanda Eropa. Salah satunya dan yang terutama, di Italia.

Italia tidak mengalami curah hujan yang signifikan selama berbulan-bulan dan hujan salju tahun ini turun 70 persen. Hal ini mengeringkan saluran air penting seperti Sungai Po, yang mengalir melintasi jantung pertanian dan industri, di Italia.

Banyak negara Eropa lainnya, termasuk Spanyol, Jerman, Portugal, Prancis, Belanda dan Inggris, yang mengalami kekeringan sama di musim panas ini.

Kekeringan ini, telah merugikan petani, pengirim barang, dan mendorong pihak berwenang untuk membatasi penggunaan air. Gelombang panas berturut-turut juga telah memperbarui fokus pada risiko perubahan iklim untuk Eropa.

Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa memperingatkan, bahwa minggu ini, kondisi kekeringan akan bertambah buruk, dan berpotensi mempengaruhi 47 persen benua.

Baca Juga:  Hikmah dari Vanuatu, salah satu negara yang paling rentan terhadap krisis iklim

Andrea Toreti, peneliti senior di European Drought Observatory, mengatakan kekeringan sangat ekstrem ini, nyaris tidak ada kejadian serupa dalam 500 tahun terakhir.

“Tetapi tahun ini, saya pikir, benar-benar akan lebih buruk,” kata Toreti, dilansir delta3.co.id dari Al Jazeera pada Senin, 15 Agustus 2022.

Sementara ahli meteorologi Peter Hoffmann dari Institut Potsdam menyebut bahwa kondisi saat ini dihasilkan dari periode cuaca kering yang panjang, yang disebabkan oleh perubahan sistem cuaca seluruh dunia.

“Hanya saja di musim panas, negara kami paling merasakannya,” katanya.

“Tapi sebenarnya kekeringan menumpuk sepanjang tahun,” lanjutnya lagi.

Perubahan iklim, menurut Peter Hoffmann, juga telah mengurangi perbedaan suhu antar wilayah, melemahkan kekuatan yang mendorong aliran jet, yang biasanya membawa cuaca Atlantik yang basah ke Eropa.

Baca Juga:  Sinopsis Film Pengkhianatan G30S PKI, Tayang Malam Ini di Bioskop Trans TV Pukul 00.45 WIB

Aliran jet yang lebih lemah atau tidak stabil dapat membawa udara panas yang luar biasa ke Eropa dari Afrika Utara, yang menyebabkan periode panas yang berkepanjangan.

Sebaliknya, juga benar ketika pusaran kutub udara dingin dari Kutub Utara dapat menyebabkan kondisi beku jauh di selatan dari tempat yang biasanya dicapai.

Hoffmann juga mengatakan, berdasarkan pengamatan dalam beberapa tahun terakhir, semuanya berada di ujung atas dari apa yang diprediksi oleh model iklim yang ada.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].