Ronny Talapessy bongkar alasan Bharada E pecat Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin sebagai pengacara

Bharada E telah menetapkan Ronny Talapessy sebagai pengacara barunya.  ( Twitter @bharadaeliezer)

delta3.co.id – Beberapa saat yang lalu Bharada Richard Eliezer atau Bharada E memecat Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin sebagai pengacaranya.

Seperti diketahui sebelumnya Bharada E sudah menceritakan ke Deolipa Yumara siapa saja tersangka yang ikut berperan dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Sehingga saat ini Bareskrim Polri sudah menetapkan 4 tersangka dalam kasus tersebut yakni Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Asisten Rumah tangga Irjen Ferdy Sambo, Kuat Maruf (KM), Bharada E, dan Brigadir Ricky Rizal (Brigadir RR).

Bharada E didakwa karena ikut terlibat dalam penembakan Brigadir J dibantu dengan Brigadir RR dan Kuat Maruf.

Bharada E saat ini telah menetapkan Ronny Talapessy sebagai pengacara barunya. Menurut Ronny Talapessy, tidak ada intervensi terkait pencabutan kuasa hukum Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin.

“Tidak ada intervensi dari siapa-siapa, tapi ini adalah keinginan dari orangtua dan Bharada E karena merasa tidak nyaman dengan pengacara lama,” kata Ronny dikutip dari instagram @rumpi_gosip pada Senin, 15 Agustus 2022.

3 alasan pencabutan kuasa hukum Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin

1. Deolipa dan Boerhanuddin tidak bertanya mengenai kasus tapi langsung mengadakan press conference.

“Ketika tanda tangan kuasa pertama kali itu bukan ditanyakan kasusnya seperti apa, berkasnya bagaimana tetapi langsung press conference, itu yang membuat tidak merasa nyaman. Tidak salah memang press conference, tapi kan etikanya pelajari dulu kasus ini, interview dulu,” kata Ronny Talapessy.

2. Deolipa dan Boerhanuddin menceritakan hal yang seharusnya tidak diungkap ke publik.

Baca Juga:  Muhammadiyah Soroti Dugaan Aliran Dana ACT ke Kelompok Terorisme

“Ada hal-hal yang tidak harus diungkapkan ke publik, contohnya pemberian uang Rp 1 miliar, nah kan ini kan harusnya pembicaraan yang Bharada E untuk pembelaan di pengadilan,” kata Rony Talapessy.

“Tapi disampaikan secara sepotong-sepotong jadi seolah-olah ini Bharada E mengetahui adanya pembunuhan berencana ini, padahal tidak seperti itu, ini kan setelah kejadian,” kata Rony Talapessy.

3. Orangtua ingin mendapatkan pengacara yang profesional dan tidak mengeksploitasi keadaan.

“Kasus ini ancamannya hukuman mati maka orangtua mau pengacara yang profesional dan tidak mengeksploitasi keadaan,” kata Rony Talapessy.

Ronny Talapessy membantah tanda tangan yang dilakukan dalam pencabutan kuasa terhadap Deolipa Yumara dan Muhammad Boerhanuddin dianggap palsu.

“Tidak ada (Dugaan tanda tangan palsu), tidak ada. Itu tanda tangan asli Bharada E,” ujar Ronny.

Ronny Talapessy mengatakan jika pencabutan kuasa oleh Bharada E tersebut telah memenuhi syarat formal dengan tanda tangan dari Bharada E.

“Tidak ada yang cacat formal. Itu tanda tangan asli kok,” kata Ronny.

Menurut Ronny Talapessy, pencabutan kuasa tersebut sudah tercantum di pasal 5 kode etik advokat Indonesia.

“Perlu kita sampaikan bahwa pencabutan surat kuasa itu sudah diatur di pasal 5 kode etik advokat indonesia. Bahwa pencabutan kuasa itu bisa dilakukan sepihak tanpa adanya konfirmasi atau persetujuan kedua belah pihak,” ujar Ronny.

Sebelumnya Deolipa Yumara menganggap bahwa ada orang yang berusaha melakukan intervensi sehingga membuat kuasa hukumnya dicabut.

Baca Juga:  Dituding jadi istri simpanan Ferdy Sambo, status asli Rita Yuliana akhirnya terbongkar: Sudah bercerai dan...

“Ada orang yang mengintervensi atau menyuruh sehingga dia mencabut kuasa. Karena dia ngasih kode nih ke saya, dia sampaikan, dia memberi kode, Bang Deo, ini saya di bawah tekanan,” kata Deolipa Yumara.

Deolipa Yumara mengatakan jika surat atau pernyataan tertulis harus disertakan dengan kode tertentu seperti tanggal, jam dan tanda tangan.

“Ini saya beri judul ‘Nyanyian Kode’ yang bercerita momen saat tanda tangan surat kuasa pertama kali bersama Bharada E. Saya bicara ke E, kita main nyanyian kode,” ujar Deolipa Yumara.

 

“Gua bilang gini, setiap lu tanda tangan surat pernyataan, lu harus tulis tanggal sama jam di samping tanda tangan atau di atasnya. Nyanyian kode itu baik untuk surat bermaterai atau tidak. Semua harus begitu,” ujar Deolipa Yumara.

Menurut Deolipa Yumara kode yang disepakati dengan Bharada E dilakukan dalam 2 surat.

Surat pernyataan belasungkawa dari Bharada E untuk keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat dan surat kuasa yang disepakati antara Bharada E serta dua kuasa hukumnya.

“Surat pertama permohonan belasungkawa. Itu sebelum tanda tangan diawali dengan pencantuman tanggal dan jam, bahkan menit. Itu surat pertama ya,” kata Deolipa Yumara.

“Lalu surat kedua, surat kuasa dia ke saya dan Burhan. Surat itu dibarengi dengan keterangan 6 agustus 2022 jam 22.45 WIB dan menitnya. Begitu karakter surat dari Bharada E,” ujar Deolipa Yumara.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.