Waspada, kini virus Langya alias Layv telah menginfeksi puluhan orang di China timur

Waspada, kini virus Langya menginfeksi puluhan orang di China timur (Qimono/Pixabay)

delta3.co.id – Para ilmuwan di Asia kini telah mengidentifikasi virus baru. Virus ini dikabarkan dapat menyebabkan demam parah, dan kemungkinan besar mudah ditularkan hewan ke manusia di China timur.

Langya henipavirus (LayV) ditemukan pada 35 orang di provinsi Shandong dan Henan di China. Sebelumnya virus telah diuji antara 2018 dan 2021. Hal ini disiarkan sebuah surat yang diterbitkan di New England Journal of Medicine awal bulan ini.

“Virus tersebut dapat menyebabkan demam akut, kelelahan, batuk dan kehilangan nafsu makan,” kata para peneliti dalam surat tersebut, dilansir delta3.co.id dari laman Al Jazeera, Jumat, 12 Agustus 2022.

“Beberapa pasien juga mengalami nyeri tubuh, mual, muntah dan sakit kepala, beberapa juga mengalami gangguan fungsi hati,” katanya lagi.

Baca Juga:  Komitmen Terapkan ESG dan Good Mining Practises, Adaro Indonesia Raih Penghargaan Platinum dari E2S

Sementara para peneliti yang berbasis di China, Australia dan Singapura, mengatakan bahwa virus LayV pertama kali diidentifikasi pada seorang wanita berusia 53 tahun pada Desember 2018.

Saat itu, dilakukan pengawasan pasien yang mengalami demam akut, dan riwayat paparan hewan.

Para peneliti kemudian melakukan survei hewan domestik dan liar untuk melacak hewan inang virus, dan menemukan RNA Langya paling dominan pada tikus.

“Sekitar 27 persen tikus dites positif terkena virus, menunjukkan bahwa hewan itu mungkin reservoir alami LayV,” tulis mereka.

“Sekitar 5 persen anjing dan 2 persen kambing juga dinyatakan positif,” katanya lagi.

Penemuan LayV terjadi kurang dari tiga tahun setelah pandemi COVID-19. Hal ini diyakini para ilmuwan disebabkan oleh limpahan virus dari hewan ke manusia.

Baca Juga:  Perjalanan Kisah Asmara Lesti Kejora dan Rizky Billar, Dijodohkan Netizen hingga Lapor Polisi Gegara KDRT

Tetapi tidak seperti SARS-CoV2, virus yang menyebabkan COVID-19, sejauh ini, para peneliti mengatakan mereka tidak menemukan bukti penularan dari manusia ke manusia.

“Tidak ada kontak dekat atau riwayat paparan umum di antara pasien, yang menunjukkan bahwa infeksi pada populasi manusia mungkin sporadis,” tulis mereka.

“Pelacakan kontak dari 9 pasien dengan 15 anggota keluarga kontak dekat mengungkapkan tidak ada penularan LayV, tetapi ukuran sampel kami terlalu kecil untuk menentukan status penularan dari manusia ke manusia,” tambah mereka.***

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.