Populasi kendaraan listrik dalam 8 tahun kedepan bakal meledak, Kemenperin ungkap jumlahnya

Mobil listrik Toyota dukungan kelestarian alam pulau Sumatera (Mufrod)

delta3.co.id – Trend kendaraan elektrifikasi di Indonesia mulai banyak diperkenalkan produsen otomotif di Indonesia. Meski persiapan serta kebijakan percepatan kendaraan listrik telah digaungkan pemerintah, namun kesiapan infrastruktur yang tengah berjalan masih menjadi hambatan.

Diluar hambatan tersebut, industri otomotif baik di Indonesia maupun global terfokus terhadap kendaran listrik yang berkaitan dengan isu lingkungan. Pembahasan inilah yang kemudian menjadi tema penting bagi Gaikindo dalam mengungkap kesiapan dan kemampuan industri otomotif di Indonesia.

Disebutkan saat ini di Indonesia peralihan kendaraan konvensional atau internal combution engine (ICE) masih sangat besar sedangkan kendaraan listrik masih belum mencapai 0,1 persen. Dengan data tersebut jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia masih sangat rendah yaitu 99 mobil dalam jumlah 1000 penduduk.

Menurut Dirjen Industri Logam, Metal, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Dr. Ir. Taufiek Bawazier, M. Si yang juga menghadiri seminar pada hari ini, untuk menyikapi isu lingkungan, alat angkut dan otomotif di GIIAS 2022, bahwa Kondisi ini menjadi tantangan besar untuk elektrifikasi otomotif Indonesia.

Bahkan lebih luas lagi di level global yang saat ini industri kendaraan dengan pembakaran internal masih sangat dominan. Di saat yang bersamaan tentu menjadi peluang besar bagi produsen komponen otomotif nasional. Mengingat kita masih terlalu berfokus untuk komponen kendaraan ICE.

Mobil listrik Toyota dukungan kelestarian alam pulau Sumatera (Mufrod)

baterai mobil listrik Wuling Air Ev (CILL)

“Perlu kita lihat ke pasar global, selain menghadapi tantangan besar soal bagaimana industri otomotif nasional berganti ke elektrifikasi otomotif, juga menjadi kesempatan buat produsen komponen otomotif nasional untuk mulai berganti ke untuk mencari komponen yang bisa mereka produksi untuk kendaraan listrik. Kalau kita masih terlalu asik dengan produksi komponen kendaraan ICE, maka ini akan menyulitkan kita menghadapi sesi phase out,” ujar Taufiek Bawazier.

Baca Juga:  Astra Financial raih transaksi Rp1,557 triliun sepanjang pameran GIIAS 2022

Dengan perubahan yang telah direncanakan sesuai road map, maka industri komponen juga harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan teknologi terbaru di industri otomotif global, dengan mulai memproduksi komponen kebutuhan kendaraan listrik.

“Berdasarkan proyeksi internal Kemenperin, jumlah kendaraan ICE yang beredar pada tahun 2030 sebanyak 25,8 juta unit dan menghasilkan emisi 92.2 juta ton CO2. Dalam rangka dukungan pengurangan Emisi CO2, Kementerian Perindustrian mengeluarkan kebijakan pengembangan industri kendaraan bermotor emisi karbon rendah yang diatur dalam Permenperin No. 36 Tahun 2021.”

Terkait hal tersebut Dr. Ir, Agus Purwadi, M.T perwakilan institusi pendidikan menjabarkan pentingnya membangun ekosistem dari sisi regulasi, energi, disposal dan aspek keamanan. Agus menegaskan bahwa kesiapan ekosistem ini juga menjadi kuncian bagaimana elektrifikasi otomotif di Indonesia lebih gampang diterima.

Menurut Agus bahwa elektrifikasi otomotif ini akan sangat terpengaruh dari kebijakan pemerintah. Bukan hanya untuk penggunaan di kota-kota besar, namun juga untuk penggunaan di seluruh Indonesia. Lantaran ini akan menentukan bagaimana masyarakat bisa menerima kendaraan tipe baterai ini dengan cepat atau tidak.

“Saya melihat bahwa industri yang paling cepat menangkap dan beradaptasi dengan perubahan adalah industri otomotif. Kalau bisa dibilang, industrinya punya inisiatif tersendiri agar adaptasi ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan itu lebih cepat. Memang kendaraan tidak ada yang benar-benar terbebas dari emisi gas buang, tapi dari sisi presentase yang ada, ya kita bisa bilang energi yang digunakan adalah energi terbarukan. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan regulasi yang tepat dan menguntungkan bukan hanya dari sisi industri, namun juga lebih jauh ke masyarakat,” ujar Agus Purwadi.

Baca Juga:  Mengenal kelebihan teknologi mild hybrid bikin Suzuki Ertiga jarang masuk SPBU

Dalam sesi diskusi yang berlangsung di GIIAS 2022, ruangan Nusantara, Gedung ICE BSD City Kabupaten Tangerang itu, juga dihadiri oleh jajaran kepengurusan GAIKINDO, termasuk Ketua Umum GAIKINDO, Yohannes Nangoi dan Ketua III GAIKINDO yang sekaligus adalah Ketua Pelaksana GIIAS 2022, Rizwan Alamsjah. Selain itu undangan yang bersifat terbatas juga diberikan ke beberapa pihak umum untuk mengetahui sejauh mana komitmen pemerintah dan pihak terkait untuk mempercepat elektrifikasi otomotif di Indonesia.

Lokasi Parkir Kendaraan Menuju ICE BSD City
Bagi Anda yang mau berkunjung ke pameran otomotif GIIAS 2022, harap memperhatikan akses parkir kendaraan yang lebih nyaman. Mengingat parkir kendaraan di gedung ICE sudah penuh, maka Anda bisa memilih parkir kendaraan di sekitar ICE yang menurut Anda lebih nyaman. Di antaranya Edutown, Froggy, AEON Mall BSD-City, Pasar intermoda, Transmart Lebak Bulus, Bintaro Exchange. Semua lokasi parkir itu memiliki shuttle bus sendiri-sendiri, sehingga Anda tak perlu repot membawa kendaraan sendiri ke ICE-BSD City.

Tiket masuk GIIAS 2022 hanya tersedia di aplikasi Auto360, dengan kehadiran pengunjung dibagi dalam dua sesi setiap harinya, untuk memastikan tidak ada kerumunan pada area masuk pameran. Harga tiket masuk tidak mengalami kenaikan yaitu Rp. 50.000,- untuk weekday (Senin-Jumat) dan Rp. 100.000,- untuk weekend.

Rangkaian GIIAS 2022 the Series akan dimulai pada 11-21 Agustus 2022 di BSD City, Tangerang. Kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan GIIAS Surabaya pada 14 – 18 September 2022 di Grand City Convex, lalu GIIAS Medan pada 5 – 9 Oktober 2022 di Santika Premier Hotel and Convention, serta GIIAS Makassar pada 16 – 20 November 2022 di Celebes Convention Center.

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim laporan ke email [email protected].